Judul Buku : 40 Days in Europe
Penulis : Maulana M. Syuhada
Tebal : 550 + xxi halaman
Penerbit : Bentang
Cetakan : I
Tahun terbit : September 2007

Sebuah perjalanan adalah pengalaman berharga yang bisa mempengaruhi para pelakunya dalam menjalani hidup setelahnya. Terlebih jika kisah perjalanan dan pengelanaan itu dituliskan menjadi sebuah memoar. Kisah perjalanan 35 musisi asal Indonesia berkelana di Eropa ini menjadi semacam monumen kenangan bagi para pelakunya, sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi para pembaca dan semacam petunjuk untuk penyelenggaraan muhibah budaya ke luar negeri, terutama Eropa.
Topik memoar ini adalah perjalanan tour kelompok angklung SMA 3 Bandung atau yang dikenal KPA 3 dalam melakukan Expand Sound of Angklung (ESA) II di Eropa selama 40 hari pada Juli hingga Agustus 2004, mencakup juga penyiapannya. Perjalanan ini sejatinya merupakan suatu bentuk diplomasi budaya untuk memperkenalkan Indonesia dan angklung sebagai salah satu bentuk seni budaya tradisional.

Keistimewaan memoar ini adalah kisah perjalanan yang dilakukan oleh 35 orang itu, meski tokoh sentral dari memoar itu adalah sang penulis. Sebuah memoar biasanya hanya menceritakan perjalanan seseorang atau beberapa orang, bukan rombongan seperti yang dilakukan KPA 3 ini. Mungkin kita bisa mengambil contoh memoar terkenal yang ditulis oleh Che Guevara bersama seorang temannya mengelilingi Amerika Latin dalam Motorcycle Diary, atau cerita perjalanan Gola Gong mengelilingi Asia dengan bersepeda. Dengan ini, kita menemukan benang merah memoar ini ada pada kehidupan penulisnya, Maulana M. Syuhada. Cerita tentang kehidupan Maulana itu juga mengambil porsi yang cukup besar dalam memoar ini.

Tidak mudah untuk mewujudkan sebuah kisah memoar menjadi enak dibaca dan mudah diikuti. Tapi rupanya Maulana bisa melakukan itu, meski semua tokoh di memoar itu karakter dan asal-usul tokohnya terjelaskan hanya sekilas. Maul (panggilan Maulana) berhasil merangkaikan semuanya menjadi gurih diikuti hingga akhir cerita. Dan perangkai utama dari seluruh cerita di memoar ini sendiri terdapat dalam kehidupan keseharian Maul.

Meski buku ini berjudul 40 Days in Europe, sesungguhnya tidak hanya kejadian selama 40 hari itu saja yang diceritakan. Bagian-bagian awal buku ini menceritakan kehidupan Maul sebagai mahasiswa rantau yang harus menjalani hidup prihatin. Namun dia menceritakan kisahnya ini secara lucu dan kadang seperti memperolok dirinya sendiri sebagai seorang mahasiswa yang kadang menyambi untuk bekerja serabutan menyambung hidup di Hamburg, kota tempatnya belajar.

Dalam buku ini, Maul banyak sekali menceritakan kelucuan-kelucuan seputar kehidupannya dalam menjalani studi. Polah para mahasiswa berkantong cekak yang menggunakan barang-barang berlebel murahan dan mengukur mahal-murahnya semua harga barang dengan harga doner, makanan khas Turki, yang murah meriah namun bisa menjadi pengobat lapar yang ampuh.

Kelucuan itu juga ada pada sikap orang-orang Eropa. Hal ini berhasil direkam Maul misalnya lewat sikap para pekerja imigran Turki dan panitia festival di Italia yang punya kemampuan berbahasa Inggris sangat minim.

Selain itu, Maul juga menceritakan kekagumannya pada sikap para akademisi dan sistem pendidikan Jerman yang liberal. Serta sikap hidup tepat waktu (presisi) yang dilakukan dalam setiap aktivitas di sana dibandingkan dengan kehidupan di Indonesia yang selalu serba molor.

Semua detil kehidupan inilah yang membuat buku ini menjadi agak berwarna. Dan mungkin inilah narasi yang bisa dijadikan penguat dari memoar ini. Andai saja tak ada cerita Maul dalam menjalani kehidupan sehari-harinya, niscaya memoar ini tidak akan begitu seru.

Ketika Maulana menuliskan semua pengalamannya ini secara apa adanya, maka memoarnya ini menampilkan memoar selayaknya catatan harian. Semua surat-menyurat dan isi pesan SMS pun dilampirkan sebagai dialog untuk menjelaskan aspek komunikasi pada memoar ini. Selama penyiapan perjalanan, tulisan berupa korespondensi Maulana dengan para pengurus KPA 3 di Bandung, para penyelenggara festival yang akan mereka kunjungi, dan pihak-pihak pendukung menjadi penjalin ceritanya.

Perburuan konser, pemilihan rute perjalanan dan penyediaan transportasi antarnegara, pencarian dana, perizinan, pengurusan visa, serta latihan persiapan konser adalah cerita selanjutnya sebagai pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh sebelum keberangkatan KPA 3 ke Eropa.

Setelah perburuan festival yang memakan waktu lebih dari setengah tahun itu, akhirnya mereka berhasil mengumpulkan undangan dari festival-festival ternama seperti Aberdeen di Skotlandia, Zakopane di Polandia, dan festival-festival lain di Frankfurt, Bremen, Berlin, Brussels, Paris, Praha, dan Munchen.

Sungguh tak banyak memoar yang menyimpan daya pukau seperti ini. Meski tentu saja memoar semacam ini begitu personal sifatnya. Karena setiap orang sah mencatatkan cerita perjalanan yang mempengaruhi dirinya. Namun hal ini menjadi sederhana saja, akankah memoar ini bisa menjadi buku yang setiap kali membacanya di masa yang berbeda akan selalu memberikan tambahan pemahaman dan pengalaman baru?